Perguruan Tinggi di Indonesia pada umumnya menerapkan sistem jurusan sejak awal mahasiswa masuk masa perkuliahan. Mahasiswa langsung memilih jurusan pada saat awal mendaftar perguruan tinggi. Sistem penjurusan di ITB sendiri lebih unik karena menganut sistem fakultas sebelum masuk ke jurusan. Pada saat ujian masuk, calon mahasiswa diminta memilih fakultas yang diinginkan. Setiap fakultas terdiri dari beberapa program studi yang bidangnya berkaitan satu sama lain.

Di tingkat pertama atau biasa disebut Tahap Persiapan Bersama (TPB), mahasiswa mempelajari mata kuliah dasar seperti Kalkulus, Kimia Dasar, Fisika Dasar dan beberapa matakuliah penunjang fakultas masing-masing. Pada umumnya, matakuliah penunjang ini bertujuan untuk memperkenalkan jurusan yang ada di fakultas tersebut. Di akhir masa TPB, mahasiswa diminta untuk menentukan jurusan yang menjadi pilihan pertama, kedua dan seterusnya. Jika kuota jurusan yang dipilih mencukupi, maka mahasiswa dapat masuk jurusan pilihan pertamanya tersebut. Namun jika di fakultasnya terdapat banyak mahasiswa yang memilih jurusan tersebut dan melebihi kuotanya, maka jurusan akan menyeleksi kembali berdasarkan prestasi selama TPB. Oleh karena itu, akan ada mahasiswa-mahasiswa yang terlempar ke jurusan lain yang bukan pilihan pertamanya. Pada kondisi ini, tentunya ada rasa kecewa bagi mahasiswa yang tidak mendapat pilihan pertamanya.

Menurut Jim Taylor, Ph.D., Dosen ilmu Psikologi di Universitas San Fransisco, kekecewaan merupakan respon alami terhadap suatu kegagalan atau tidak sesuainya harapan dan kenyataan. Seseorang yang dihadapkan dengan rasa kecewa biasanya akan mudah menyerah, tidak semangat, bahkan tidak jarang merasa putus asa sehingga menjadi penghambat tercapainya tujuan dan prestasi. Mahasiswa yang kecewa karena tidak dapat masuk jurusan pilihan pertamanya pun kemungkinan mengalami hal-hal tersebut. Mahasiswa tersebut akan merasa putus asa dan tidak memiliki semangat belajar sehingga menghambat pencapaian prestasi. Jika mahasiswa tidak memiliki semangat belajar, maka ada kemungkinan mahasiswa mengalami penurunan prestasi. Hal ini dapat ditunjukkan dengan nilai IP yang tidak lebih baik dibandingkan rekan-rekannya. Dari paparan tersebut, terlihat bahwa dibutuhkan adanya analisis lebih dalam mengenai hubungan antara ketidaksesuaian jurusan dengan prestasi belajar (ditunjukkan dengan  IP) mahasiswa ITB. Hal ini dilakukan untuk memberikan masukan bagi ITB sebagai pertimbangan perbaikan sistem Fakultas dan Jurusan.

Proses analisis dapat dilakukan menggunakan data yang dimiliki Tim Tracer Study ITB. Pengolahan data Tim Tracer selama ini belum membahas mengenai hubungan kesesuaian pilihan jurusan dengan prestasi belajar. Oleh karena itu, analisis ini dapat mengoptimalkan pengolahan dari data yang ada sehingga data bisa lebih bermanfaat. Selain itu, Program Studi juga bisa mendapatkan feedback lebih berupa data jumlah mahasiswa yang tidak memilih jurusan tersebut sebagai pilihan pertamanya. Jika jumlahnya besar, Prodi bisa melakukan evaluasi lebih mengenai promosi jurusannya.

Untuk mengetahui hubungan antara kesesuaian pilihan jurusan dengan prestasi belajar, dilakukan analisis dengan mengambil sampel dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) Angkatan 2009. Penentuan sampel ini dilakukan secara random. Sampel Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) Angkatan 2009 ini berjumlah 236 orang. FITB terdiri dari jurusan Meteorologi, Oseanografi, Teknik Geodesi dan Geomatika serta Teknik Geologi. Sampel yang diambil hanya dari tingkat pendidikan Sarjana. Responden dari jurusan Meteorologi berjumlah 37 orang, Oseanografi 33 orang, Teknik Geodesi dan Geomatika 86 orang serta Teknk Geologi 80 orang.
Download Article