Fulca Veda

Bandung, ITB Career Center — Sisi kognitif alumni ITB sudah tidak perlu diragukan lagi. Namun, masih ada beberapa kemampuan yang perlu dikembangkan karena berimplikasi pada kinerja alumni ITB di dunia profesional. Anggapan ini disampaikan oleh Ni Made Suryani, seorang konsultan karir dari D&D Consultant—yang tak lain adalah alumni Teknik Fisika dari Kampus Ganesha sendiri—pada Program Pendidikan dan Pelatihan ITB Career Center 2017, di GKU Timur, ITB.

"Kemampuan kognitif mahasiswa dan alumni ITB tidak perlu diragukan lagi. Namun, kemampuan komunikasi, writing skills dan emotional intelligence masih harus terus ditingkatkan," ujarnya.

Ni Made beranggapan bahwa selama puluhan tahun bekerja di perusahaan prestigious, baik oil & gas maupun perusahaan berbasis human resources, dirinya melihat bahwa industri butuh orang yang potensial dan siap jadi successor.

"
Orang yang potensial adalah yg bisa menjual idenya di dunia usaha dan dunia industri. Bagaimana menjual ide? Ya tentu dengan kemampuan berkomunikasi yang baik. Sejauh ini, yang mandatory untuk hardskills anak ITB adalah perlu dikembangkan kemampuan writing (menulis) dan presentation skills (berbicara/lisan). Kemampuan ini sangat basic dan harus dimiliki anak ITB, beberapa kali saya isi konsultasi karir disini ada yang tidak bisa mengembangkan CV, menulis report, ataupun memo. Gesture dan kontak mata saat interview juga masih kurang. Ada yang over confident, ada yang less confident. Banyak klien tanya mengapa lulusan ITB memiliki tendensi untuk tidak bisa menyampaikan ide lewat lisan. Akhirnya, ide-ide bagus dan akademik yang selama ini dipelajari tidak tersampaikan dengan baik, sehingga perlu masuk dapur training," jelasnya diwawancarai setelah memberikan materi Competency Based Development di Ruang 9211 ITB, Sabtu (25/11).

Divisi Riset ITB Career Center sendiri pernah melakukan penelitian Tracer Study ITB 2016 dengan mengkaji kompetensi mahasiswa ITB angkatan 2009, kontribusi ITB, serta implikasinya terhadap pekerjaan alumni.

Pada grafik di atas, misalnya, tampak bahwa kompetensi alumni ITB angkatan 2009 yang lebih baik dibanding kontribusi dari ITB, mencakupi pengetahuan di luar disiplin ilmu, pengetahuan umum, keterampilan internet dan komputer, kemampuan belajar, komunikasi, bekerja mandiri dan tim, adaptasi, negosiasi, loyalitas, bekerja dengan orang beda budaya, kepemimpinan, manajemen proyek serta kemauan untuk terus belajar.

Kompetensi yang kurang dikuasai alumni dan dianggap cukup banyak diberikan oleh ITB antara lain, pengetahuan dibidang disiplin ilmu, keterampilan riset, bekerja di bawah tekanan, manajemen waktu serta menuliskan laporan.

Sementara itu, terkait adanya tuntutan pekerjaan yang dianggap lebih besar dibandingkan kompetensi alumni dan kontribusi ITB, adalah pengetahuan di luar disiplin ilmu, berpikir kritis, komunikasi, bekerja dalam tekanan, manajemen waktu serta kepemimpinan. (Tracer Study ITB, 2016)

"Di perusahaan dan industri kita harus membangun kepekaan kita. Bukan masalah seberapa besar nilai indeks prestasi komulatif (IPK) kita, namun seberapa bisa seorang alumni mengaplikasikan kompetensinya di lingkungan kerja. ITB harus menemukan competitive advantage-nya, jika tinggi di bidang engineering, jangan hanya membangun diri sebagai mahasiswa engineering yang cerdas secara kognitif, tapi emotional intelligence juga perlu dikembangkan supaya tidak hanya menjadi workers, tapi menjadi leaders dengan kemampuan team work yang baik pula," tambahnya. (fv)

Artikel terkait: Menilik Keterampilan Kewirausahaan Alumni ITB dari Pendiri Startup "Prelo"