Bisnis.com, BANDUNG – Minimnya rekam study lulusan perguruan tinggi dapat mengakibatkan tidak adanya umpan balik untuk upaya perbaikan dan peningkatan kualitas pendidikan bagi almamaternya. Menyadari hal tersebut, ITB meluncurkan dan mengadakan pelatihan Tracer Study, sebagai salah satu cara memperoleh umpan balik dari para lulusan.

Melalui pelatihan itu, ITB Career Center memfasilitasi pertemuan seluruh perguruan tinggi di Indonesia untuk sharing terkait hasil pelaksanaan Tracer Study di ITB dan survei kepuasan pengguna 2015, inovasi dan implementasi pelaksanaan Tracer Study di ITB, teknik dan metodologi Tracer Study yang lebih sesuai digunakan di Indonesia, dan Peluncuran dan Pelatihan Open Source System IT Tracer Study (TRACER.ID).

Akan tetapi, minimnya jumlah responden yang mengisi kuisioner menjadi persoalan utama yang dihadapi Tracer Study, sehingga perolehan responden sebanyak 50% telah dianggap sebagai hasil yang baik.

Selama penggunaannya, ITB telah melaksanakan Tracer Study secara menyeluruh dan berkelanjutan sebanyak enam kali. Empat diantaranya Tracer Study 2012 merekap angkatan 2004 dan 2005 dengan response rate 34% dan 50%, Tracer Study 2013 merekap angkatan 2006 dengan response rate 72%, Tracer Study 2014 merekap angkatan 2007 dengan response rate 80%, dan Tracer Study 2015 merekap angkatan 2008 dengan response rate 93%.

Director ITB Career Center Eng Bambang Setia Budi mengatakan, melalui Tracer Study ini dapat terlihat jumlah lulusan yang bekerja setelah lulus dan besaran kesesuaian kuliah dengan dengan pekerjaan.

“Di ITB sendiri, kesesuaian bidang kuliah dengan bidang kerja berada diantara 70-80%, sisanya tidak sesuai. Diantaranya yang sesuai 100% itu bidang perminyakkan, farmasi, dan lainnya, sedangkan yang rendah kesesuaiannya biasanya bidang meteorologi dan astronomi,” jelasnya di tengah Konferensi Pers Indonesia Career Center Summit 2016 di Aula Timur ITB, Jalan Ganesha No. 10, Bandung, Senin (02/05/2015)..

Tak hanya itu, melalui Tracer Study dapat ditemukan jangka waktu proses lulusan mendapatkan pekerjaan setelah kelulusan dari perguruan tinggi. Alumni ITB angkatan 2008 secara keseluruhan rata-rata waktu tunggu hingga memperoleh pekerjaan adalah 3,6 bulan sebelum lulus kuliah dan 4,4 bulan setelah lulus kuliah.

Selain itu, Tracer Study juga dapat digunakan untuk mengetahui perusahaan mana yang menerima lulusan perguruan tinggi tersebut dan jenis perusahaan itu sendiri.

Berdasarkan data Tracer Study, lulusan ITB angkatan 2008 mayoritas bekerja di perusahaan nasional sebanyak 43%, perusahaan multinasional sebanyak 39%, dan di perusahaan lokal sebanyak 18%. Sedangkan, untuk jenis perusahaannya, sebanyak 65% bekerja di perusahaan swasta, 23% di BUMN dan instansi pemerintah lainnya, sisanya bekerja di organisasi non profit/lembaga swadaya masyarakat sebanyak 2% dan berwiraswasta sebanyak 10%.

Di sisi lain, sistem IT ini juga dapat melihat gap antara middle management dan fresh graduate. Hingga kini, semakin menurunnya tahap middle management menjadi tantangan sendiri yang dialami para lulusan.

“Kurangnya middle management ini disebabkan oleh kecenderungan lulusan pindah kerja. Tidak seperti orang Jepang yang menetap di satu tempat saat bekerja, budaya Indonesia itu sering kali pindah sehingga middle managementnya terhambat,” ungkapnya.

Untuk itu, dia menyatakan, pentingnya pengumpulan data dengan menggunakan Tracer Study tersebut, di mana pada acara Sosialisasi & Sharing serta Peluncuran & Pelatihan Open Source System IT Tracer Study ITB yang diselenggarakan pada 2 Mei 2016 ini menghadirkan 300 universitas atau perguruan tinggi di Indonesia.

“Saat ini datanya masih sporadis, maka dengan adanya jejaring ini semoga kami bisa mengumpulkan datanya bersama-sama, dengan sekretariat bersama di ITB ini,” ucapnya.