Fulca Veda

Bandung, ITB Career Center — ITB Career Center menerima kunjungan Universitas Borneo Tarakan di kantor Pusat Karir ITB pada Jumat, 20 Oktober 2017.

Dalam kesempatannya, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Borneo Tarakan, Dr. M. Djaya Bakri, S.T., M.T. menyampaikan bahwa kunjungan ini bertujuan untuk mengenal pengelolaan pusat karir di ITB.

"Berbeda dengan Kampus ITB, secara struktural universitas kami belum mempunyai pusat karir dan lembaga tracer study. ITB Career Center adalah salah satu pusat karir yang pengelolaannya sudah settle dan kami tertarik untuk belajar dari pengalaman mereka," ujarnya saat ditemui di ruang meeting ITB Career Center.

Lebih jauh, kunjungan ini juga dimanfaatkan pihak Universitas Borneo Tarakan untuk mulai menyiapkan agenda tracer study yang baru akan dimulai pada 2018, sesuai anjuran kerja rektor Universitas Borneo Tarakan yang baru. Hal serupa disampaikan Patria Julianto, S.T., MT, selaku Kepala Biro Akademik Kemahasiswaan & Kerjasama Universitas Borneo Tarakan. Ia menegaskan bahwa tahun ini pihaknya tengah merampungkan aplikasi software tracer study yang diadopsi dari ITB. "Tahun depan baru akan meluncurkan sistem IT tracer study di kampus kami, mengingat sejak dulu tracer study kami masih berupa exit survey, sistemnya masih manual menggunakan kertas kuesioner," pungkasnya.

Rombongan delegasi Kemahasiswaan Universitas Borneo Tarakan ini disambut oleh Direktur ITB Career Center, sekaligus peneliti Tracer Study ITB, Dr. Eng. Bambang Setia Budi, S.T., M.T. Kepada rombongan Universitas Tarakan, dirinya menyampaikan bahwa sistem IT yang digunakan oleh timnya terbukti mampu memfasilitasi kebutuhan untuk tracer study di kampus ITB.

"Dulu kami menggunakan sistem kuesioner dari QTAFI, sekarang kami kembangkan sistem open source mandiri yakni Tracer.id versi ke-4. Tracer study di ITB juga terus berinovasi; pelaksanaannya dilakukan secara struktural maupun kultural, menggunakan metode sensus, pendekatan angkatan, sistem surveyor, dan mengembangkan core questioner yang diadopsi dari Indotrace dan Unitrace-INCHER (lembaga riset pendidikan tinggi di Universitas Kassel-Jerman yang sudah melakukan tracer study selama 25 tahun, red). Perbaikan-perbaikan ini turut mempengaruhi naiknya response rate tracer study di ITB," paparnya.

Dr. M. Djaya Bakri, S.T., M.T. menambahkan bahwa sharing dengan ITB memberi banyak masukan terhadap agenda pembuatan tracer study dan pengelolaan pusat karir di kampusnya. Ia berharap kedepannya tracer study di Universitas Borneo Tarakan tidak hanya untuk kebutuhan akreditasi semata. "Semoga bisa seperti tracer study di ITB, pendekatan angkatan jadi salah satu yang kami pertimbangkan untuk kebutuhan umpan balik dan evaluasi kurikulum tiap tahunnya di kampus kami," tambahnya di akhir kunjungan ke kantor Tracer Study ITB. (fv)