Fulca Veda

Bandung, ITB Career Center — Memilih melanjutkan studi dianggap membuka ruang kerja baru bagi sebagian alumni ITB.

Hal ini selaras dengan tujuan salah satu alumni yang baru menyelesaikan studi pasca sarjananya di Hiroshima Universty, Jepang. Erlangga Hanggara, Alumni Material ITB 2010 mengungkapkan alasannya memilih untuk melanjutkan studi S2 Jurusan Mechanical Science di Hiroshima University setelah menyelesaikan kuliahnya di Kampus ITB.

"Alasannya sebenarnya memang ingin mencari kehidupan di luar. Dulu ada pertukaran pelajar dari Jepang ke ITB di Lab Material, dari situ saya diperkenalkan dengan Lab Material Physics di Hiroshima University. Saya memperoleh kesempatan untuk studi di Jepang karena kompetensi saya dinilai sesuai dengan kriteria yang diterima di program master di Hiroshima University, terutama portofolio dan kemampuan Bahasa Jepang. Selain itu, saya ada ketertarikan pada otomotif. Jepang, terutama Kota Hiroshima memiliki perusahaan manufaktur otomotif yang besar, Mazda. Karenanya saya ingin belajar sekaligus berkarir di sana," jelasnya.

Ia menegaskan bahwa tak hanya dari segi akademik, Hiroshima University juga menawarkan dukungan life balance. "Hiroshima University memang secara komprehensif memiliki pendanaan riset dari pemerintah dan dari kampusnya sendiri sudah terfasilitasi dengan baik. Sementara itu, tidak seperti di Amerika Serikat, mahasiswa diperbolehkan bekerja part time maksimal 28 jam tiap minggunya disini, jadi sangat fleksible," jelasnya.

Ketika ditanya mengenai output dirinya sebagai alumni ITB dengan tagline Kampus Ganesha yang sedang bertransformasi ke entrepreneur university, Erlangga mengamini hal tersebut sebagai harapan yang baik dari pemimpin ITB kepada mahasiswanya. Menurut pemuda yang baru diterima bekerja di Mazda Motor Company, Hiroshima ini, memahami minat diri sendiri untuk meniti karir adalah penting.

"Saya paham bahwa ITB sedang bertransformasi dari research university menuju entrepreneur university. Namun, mahasiswa perlu paham apa yang dia minati dan berusaha sebaik mungkin untuk bisa berguna bagi sekitar. Kalau ditanya apakah saya suka riset, ya suka, apakah saya ingin jadi entrepreneur bikin kendaraan listrik sendiri, ya pingin juga. Tapi saya rasa banyak jalan yang bisa saya gali setelah S2, salah satunya saya bisa sharing di depan teman-teman ITB juga tentang pengalaman saya di Jepang, saya lebih suka di bidang edukasi seperti ini. Saya rasa menjadi diri sendiri dan melakukan apa yang kita suka itu penting," jelasnya.

Berdasarkan penelitian Tracer Study ITB 2016, jumlah alumni ITB yang memilih untuk melanjutkan studi pascasarjana ini sendiri terbilang tinggi. Setidaknya, merujuk pada angkatan 2009 yang tidak bekerja atau mengambil studi lanjut ada 26% atau 686 mahasiswa dari total 2854 alumni. Dari jumlah tersebut, 72%nya mengatakan bahwa alumni ITB 2009 memutuskan untuk melanjutkan studi pascasarjana. Kategori melanjutkan studi sendiri menempati peringkat ke dua pekerjaan utama terbanyak setelah kategori bekerja (62% atau 1648 alumni). (fv)