Fulca Veda

Bandung, ITB Career Center — Tingginya permintaan kerja menyebabkan tuntutan baru bagi perguruan tinggi agar mau bersaing dan menghasilkan SDM yang berkualitas sesuai kriteria dunia profesional. Sebagai salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia, ITB secara umum sangat diperhitungkan bagi banyak perusahaan untuk merekrut alumni-alumninya agar bekerja sesuai kompetensi dan standard perusahaan perekrut. Keunggulan di berbagai bidang kompetensi dan hardskills lulusan ITB bahkan dinyatakan sudah baik, di atas rata-rata dan sesuai dengan harapan user atau perusahaan tersebut.

Meski begitu, dalam wawancara yang dilakukan Pihak Tracer Study ITB Career Center dengan T&E Simulation pada perhelatan Titian Karir Terpadu ITB bulan lalu, ditemukan bahwa salah satu kendala alumni ITB yang bekerja di perusahaan tersebut adalah kemampuan bekerja dalam tim. Seperti dikutip dari Yupitri Oktalika, Manager HRD PT T&E Simulation, alumni ITB memiliki kecenderungan untuk bekerja sendiri dalam menyelesaikan projek tertentu.

“Untuk bidang kerja spesifik seperti mekanik dan audio simulator, alumni ITB sangat professional. Mereka selalu ingin belajar dan suka ngulik. Hanya saja, alumni ITB cenderung bermasalah pada softskillsnya, yakni di segi teamwork, terutama para engineer-nya. Mereka lebih terbiasa mengerjakan segala sesuatunya sendiri. Meskipun proyeknya beres, terkadang masih kurang koordinasi antara satu dengan yang lain," ujarnya.

Merespon anggapan tersebut–meski tidak cukup merepresentasikan karakter bekerja setiap alumni ITB–faktanya, tidak semua kompetensi alumni ITB dirasa telah mumpuni dan cukup sesuai tuntutan perusahaan. Poin bekerja tim alumni ITB yang tak jarang diisukan rendah dibandingkan kemampuan bekerja individu, masih menjadi bahan yang cukup sering diteliti pada penelitian User Survey Tracer Study ITB sejak tahun 2010-2013 dan 2015-2016.

Dalam survey kepuasan (user survey) yang dilakukan oleh Divisi Tracer Study ITB Career Center, terdapat tiga kompetensi yang harus dinilai oleh responden (user/perusahaan). Kompetensi ini meliputi hardskills, softskills, dan faktor internal-eksternal dari alumni yang bekerja di perusahaan yang menjadi objek penelitian survey tersebut.

Dari hasil survey selama 5 tahun, poin bekerja dalam tim dan poin etika (dikategorikan sebagai softskills) harus menjadi tugas bersama bagi ITB untuk terus meningkatkan kompetensi alumninya.

Terlepas dari itu, dalam hasil survey selama 5 tahun tersebut, Divisi Tracer Study ITB Career Center menemukan bahwa dunia usaha dan dunia industri (DUDI) telah merasa puas dengan kompetensi bekerja individu dan kepemimpinan alumni ITB. Ditemukan pula fakta bahwa pada kategori hardskills, dari hasil survey selama 4 tahun, kompetensi IPK, keahlian, dan pengalaman kerja alumni ITB tidak perlu diragukan lagi. Hal ini dikarenakan poin-poin tersebut meningkat secara progresif seiring dengan tingkat kepuasan perusahaan terhadap alumni-alumni ITB setiap tahunnya. (fv)