Fulca Veda

Bandung, ITB Career Center — Tim CCED Universitas Lampung mengunjungi ITB Career Center pada Jumat, 15 Desember 2017 dalam rangka studi banding lembaga pusat karir dan tracer study di Kampus Ganesha.

Dr. Ayi Ahadiat SE., MBA, selaku Kepala CCED Universitas Lampung menegaskan, timnya mengunjungi ITB Career Center karena telah bertukar ilmu dan pengalaman dengan ITB Career Center selepas kunjungan Direktur Pusat Karir ITB, Dr. Eng. Bambang Setia Budi pada workshop tracer study di Universitas Lampung, bulan Maret yang lalu.

"Kurang lebih sama dengan ITB Career Center, pusat karir kami lebih struktural karena terbagi menjadi divisi-divisi sesuai fungsinya masing-masing; divisi kemitraan/ employer services, divisi kewirausahaan & inkubator bisnis, divisi konsultasi karir, serta divisi tracer study dan IT. Kami tertarik belajar lebih jauh dari ITB Career Center karena telah berpengalaman mengelola pusat karirnya dengan baik, salah satunya juga pelaksanaan tracer study yang telah dilaksanakan sejak tahun 2010,"

Kepala Divisi Tracer Study, Penjaminan Mutu dan IT Universitas Lampung, Dr.Ribhan, S.E., M.Si. memaparkan,  tracer study di Universitas Negeri Lampung sendiri baru berjalan 3 tahun. Hal ini turut terlaksana berkat bekerjasama dengan Tracer Study ITB Career Center.

"Tracer Study di Unila belajar banyak dari metode yang telah dilaksanakan oleh ITB. Bedanya, kami menggunakan exit survey bukan entry, sehingga kami memilih cohort dari tahun lulusan, bukan tahun angkatan," jelasnya saat ditemui dalam kunjungan ke Kantor Sekretariat Tracer Study ITB, Jumat (15/12).

Dirinya menambahkan bahwa ada beberapa inovasi yang turut diadopsi dari studi banding yang telah dilakukan tahun lalu dengan divisi riset dari ITB Career Center ini, yakni penggunaan metode teknis seperti surveyor.

"Kami menggunakan dua inovasi dalam pelaksanaan tracer study di Unila, yakni enumerator dan mengadopsi metode dari Tracer Study ITB, surveyor. Kedua tenaga enumerator dan surveyor diambil dari mahasiswa tingkat akhir atau aktifis mahasiswa. Sejauh ini response rate kami turut meningkat pula, jika awalnya kami mendapat 10-20% di tahun pertama dan kedua, di tahun ketiga response rate kami naik hingga 52-53%," tambahnya.

Direktur ITB Career Center, Dr. Eng. Bambang Setiabudi, ST., MT., dalam kesempatannya menambahkan, bahwa tracer study tidak perlu mempermasalahkan data angkatan atapun data lulusan.

"Mau dengan data angkatan atau data lulusan, itu bukan masalah. Keduanya tentu memiliki kekurangan dan kelebihan. Dalam tracer study, yang paling penting sebenarnya adalah data collecting. Kalau pendataannya sudah dipermasalahkan lebih dulu, pengolahan datanya (data mining) tentu akan berantakan juga," paparnya disela pertemuan dengan Tim CCED Universitas Lampung.

Tracer Study ITB Career Center sendiri tahun ini telah menyelenggarakan tracer study yang ke-8 dengan mengambil objek alumni ITB angkatan 2010. Laporan Tracer Study ITB tersebut direncanakan akan terbit akhir tahun 2017. (fv)