Fulca Veda
 
Bandung, ITB Career Center — Divisi Tracer Study ITB Career Center dalam laporan penelitiannya (yang akan diterbitkan pada awal tahun 2018) menyatakan bahwa dari 2854 lulusan 2009 yang berprofesi sebagai wirausaha ada sebanyak 188 orang, atau 7%.
 
Setelah dilakukan penelitian lebih dalam mengenai bidang usaha, nama perusahaan, serta kategori usaha dari data Tracer Study ITB 2016 didapatkan 62% (116 orang) sesuai dengan program studinya sewaktu kuliah dan sebanyak 38% (72 orang) tidak sesuai dengan program studi sewaktu kuliah. Sederhananya, semua lulusan yang berprofesi sebagai wirausaha dan sesuai dengan program studi sewaktu kuliah ada sebanyak 4.38% dari total lulusan angkatan 2009.
 
Dari jumlah tersebut, ditemukan bahwa terdapat berbagai persebaran bidang usaha yang telah dijalankan oleh lulusan ITB 2009, termasuk dalam bidang kegiatan pemrograman, konsultasi, kegiatan jasa informasi, telekomunikasi dan sejenis. Angkanya mencapai 12 usaha.
 
Hal ini tak hanya mengukuhkan ITB sebagai kampus yang mencetak banyak entrepreneur, tapi juga banyak pendiri usaha rintisan atau startup. Fakta ini turut diperkuat oleh hasil riset tahun 2017 dari perusahaan modal Venturra Capital dan situs perbandingan harga Iprice yang melakukan riset terhadap lebih dari 100 pendiri perusahaan startup "sukses" di Indonesia. Parameter "sukses" yang diterapkan oleh Venturra Capital dan Iprice ini sendiri merupakan startup yang minimal sudah mendapatkan pendanaan seri-A.

Menurut situs startuxplore.com, pendanaan seri-A merupakan kategori pendanaan yang diberikan investor pada perusahaan startup (rintisan), biasanya dilakukan dengan menjual sebagian stock saham ke investor eksternal.

Hasil riset tersebut menyebutkan bahwa ITB menjadi perguruan tinggi paling banyak menghasilkan pendiri perusahaan startup dengan jumlah 14 orang. Jumlah ini mengalahkan jumlah startup di Indonesia yang didirikan oleh beberapa lulusan perguruan tinggi mancanegara seperti Harvard University (8 orang), Purdue University (7 orang) dan Stanford University (5 orang). Kondisi ini tentunya sejalan dengan upaya ITB menuju entrepreneurial university.
 
Namun, sudah sesuaikah skill entrepreneur tersebut dengan kebutuhan perkembangan pasar kerja di Indonesia?

Mengutip artikel yang dirilis World Economic Forum, Founder Kudo, Agung Nugroho, yang tidak lain merupakan salah satu alumni ITB angkatan 2003 jurusan Teknik Kimia mengatakan bahwa sangat jarang ditemui anak muda Indonesia dengan skills yang dibutuhkan, terutama di bidang engineering, computer science, dan bisnis.

Anggapan tersebut menyebutkan lebih jauh bahwa Indonesia berpotensi untuk meningkatkan perekonomiannya dengan berbagai keuntungan demografis (tingginya angka usia kerja), tapi disisi lain terkendala kurangnya talent atau tenaga kerja dengan skill yang mumpuni.

Terkait hal tersebut, World Economic Forum dalam artikelnya "How Asians Might Lose Their Jobs (and Find New Ones)" merekomendasikan bahwa baik pemerintah, dunia usaha, dan pasar bisnis harus bersinergis menciptakan sistem pendidikan dan ekosistem kerja yang saling berpengaruh satu sama lain. Perusahaan, tentunya tak lagi bisa menjadi konsumer yang pasif terhadap kebutuhan sumber daya manusia yang potensial semata. Perusahaan dianjurkan turut bertanggung jawab menjamin pertumbuhan ekonomi dengan mengembangkan talent dan rencana kerja strategis untuk berbisnis di Indonesia. Pemerintah, terutama, harus mampu mendemonstrasikan kurikulum pendidikan yang menjawab kebutuhan pasar kerja.

Sehingga ITB, pada akhirnya, akan turut berperan mencari cara untuk mempertahankan serta meningkatkan keberhasilan rencana strategis entrepreneur university di tahun berikutnya. (fv)

Artikel terkait:
ITB Student Entrepreneur Festival 2017, dari Kampus Riset Menuju Kampus Entrepreneur
Menilik Keterampilan Kewirausahaan Alumni ITB dari Pendiri Startup "Prelo"