Fulca Veda

Bandung, ITB Career Center — Menurut data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik, jumlah pengangguran terbuka di Indonesia per Februari 2017 mencapai 7,01 juta orang atau mengalami penurunan sebesar 0.28% dibanding Agustus 2016.

Mengutip press release yang dikeluarkan oleh Lembaga Kemahasiswaan ITB, fenomena pengangguran Indonesia ini tergolong unik karena jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan jumlah pelamar pekerjaan. Namun, kemunculan kewirausahaan menjadi salah satu solusi yang mampu menjawab tantangan perekonomian Indonesia tersebut. Hal ini tidak terjadi di negara-negara lain. Fenomena tersebut disampaikan oleh Dr. Eng. Bambang Setia Budi, S.T., M.T, selaku Direktur ITB Career Center sekaligus Peneliti Tracer Study ITB kepada pihak media LK ITB sesaat sebelum  dibukanya perhelatan ITB Student Entrepreneur Festival pada 25 November 2017 yang lalu.

Hal ini diamini oleh Ketua Program Studi Kewirausahaan SBM ITB, Wawan Dhewanto, Ph.D. "Masih banyak pengangguran lulusan universitas dan rendahnya angka pertumbuhan wirausahawan di Indonesia. ITB Student Entrepreneur Festival yang diinisiasi oleh ITB Career Center dan Kewirausahaan SBM ITB menjadi ajang untuk membangun profil mahasiswa dan alumni ITB untuk mampu menjawab permasalahan ketenagakerjaan tersebut," jelasnya.

Menurutnya, kewirausahaan di ITB tersebut akan semakin menegaskan transformasi Kampus Ganesha sebagai entrepreneur university jika didukung oleh simpul-simpul kewirausahaan dari internalnya.

"Simpul kewirausahaan di ITB baik ITBCC, LK, SBM, Pihak Riset dan Inovasi ITB, perlu terus berkolaborasi untuk mendukung usaha mahasiswa supaya terintegrasi dengan agenda strategis entrepreneur university Prof. Kadarsah, Rektor ITB," ujarnya.

Wawan Dhewanto, Ph.D. menegaskan bahwa meski ITB identik dengan sekolah teknik, prinsip dasar kewirausahaan adalah perlu, "Untuk  tahu apakah semuanya bisa dikomersilkan, tak hanya sekedar mengikuti trend, tapi passion dan keuletan orang juga jadi pertimbangan. Mencetak entrepreneur harus tahu product & market fit, agar tahu apa yang diinginkan pasar. Kolaborasi itu perlu, sayang kalau anak teknik jago bikin produk, tapi tidak paham pasar," paparnya.

Dalam event tersebut, setidaknya ada tiga kategori yang menonjol dalam setiap produk yang ditawarkan oleh mahasiswa ITB, termasuk Argo and Food, Creative & Fashion, dan Digital, Techno & Services.

Sesuai dengan peta persebaran alumni berdasarkan bidang usahanya, Divisi Riset ITB Career Center menemukan bahwa 4.38% alumni ITB tahun 2009 memilih untuk berwirausaha sesuai jurusannya.  Jumlah ini lebih banyak dari target Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Kadarsah Suryadi, DEA, yang mengharapkan pada 2019 ada empat persen lulusan yang menjadi entrepreneur setelah empat tahun lulus. (fv)