Fulca Veda
 
Bandung, ITB Career Center  ̶  Pendidikan tinggi tak hanya dituntut untuk pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Menurut DIKTI, salah satu prinsip pelaksanaan pendidikan juga bertumpu pada pembentukan lulusan yang berkualitas dan mampu melanjutkan ke dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Sementara itu, salah satu alasan seorang calon mahasiswa memilih jurusan atau disiplin ilmu tertentu adalah karena orientasi terapan ilmu dan prospek kedepannya di dunia kerja.

Namun, bagaimana jika perkembangan pasar kerjalah yang mempengaruhi pilihan studi dan prospek karir seorang lulusan perguruan tinggi? Terkait hal ini, Andi Irwandi MM, Asisten Peneliti Tracer Study ITB pada 2017 menulis artikel penelitian mengenai “Krisis Minyak Global dan Dampaknya Terhadap Karir Lulusan Teknik Perminyakan ITB”. Isu mengenai krisis minyak dunia merupakan salah satu yang menjadi perhatian semua kalangan, termasuk instansi pendidikan seperti Institut Teknologi Bandung, dan Jurusan Teknik Perminyakan FTTM ITB.

Dalam temuannya, Tracer Study ITB Career Center menemukan bahwa mahasiswa Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM) ITB angkatan 2015 nampaknya tidak lagi memfavoritkan jurusan Teknik Perminyakan mengingat beredarnya isu krisis minyal global di masyarakat. Dampak krisis minyak global seperti pemutusan hubungan kerja di berbagai industri minyak dan gas bumi menjadi perbincangan atas turunnya harga minyak dunia. Dari hasil penjurusan FTTM angkatan 2015 ini misalnya, jurusan Teknik Perminyakan yang biasanya setiap tahun diminati menjadi pilihan pertama, tidak lagi menjadi prioritas dalam pilihan mahasiswa FTTM 2015.

Dalam tulisannya, Andi Irwandi menyebutkan bahwa 89 responden dari total 98 lulusan Teknik Perminyakan 2009 telah berkontribusi dalam pengumpulan data mengenai karir lulusan Teknik Perminyakan. Lulusan Teknik Perminyakan ITB angkatan 2009 ini dipilih karena merupakan lulusan baru yang sedang memulai karir pada masa-masa krisis minyak global awal tahun 2015.

“74% dari total 89 responden status pekerjaannya bekerja, 4% wirausaha, dan 1% bekerja dan wirausaha. 83% responden yang bekerja menyatakan bahwa pekerjaan yang mereka lakukan sesuai dengan jurusan mereka di Teknik Perminyakan yakni pertambangan dan penggalian,” tukasnya.

Lapangan pekerjaan perminyakan juga bukan hanya di Indonesia saja, banyak perusahaan multinasional yang bergerak di industri minyak dan gas bumi masih berjalan dengan baik. Andi Irwandi juga menyampaikan dalam tulisannya bahwa 50% masih bekerja di perusahaan multinasional karena memang masih ada peluang usaha di industri perminyakan tersebut.

Hal ini ikut menampik anggapan turunnya harga minyak dunia yang berdampak pada tidak adanya lapangan pekerjaan bagi alumni lulusan Teknik Perminyakan. Industri perminyakan dan gas bumi masih belum redup, dan lulusan Teknik Perminyakan masih berpotensi untuk berkarir linier sesuai latar belakang pendidikannya. (fv)