Fulca Veda
 
Bandung, ITB Career Center — Universitas Sam Ratulangi Manado mengunjungi ITB Career Center dalam rangka pelatihan tracer study intensif di ITB selama 3 hari pada Selasa hingga Kamis, 28-30 November 2017.

Dra. Lusye M. Manumpil, M.Si. selaku Kepala Bagian Pengembangan dan Anila Engka, SE, M.Si, Kepala Sub Bagian Program Tata Usaha Universitas Sam Ratulangi, mengungkapkan bahwa ITB dipilih sebagai tempat pelatihan mengingat banyaknya pengalaman dan inovasi yang dimiliki Divisi Tracer Study ITB Career Center dalam melakukan tracer study di ITB.

"Universitas Sam Ratulangi punya agenda khusus untuk pelaksanaan tracer study tahun ini. Target penelusuran alumninya tiga angkatan sekaligus, yakni alumni tahun 2010, 2011, dan 2012. Namun, banyak tugas dan kendala yang harus kami atasi dahulu, karena ini merupakan tracer study online pertama di kampus kami. Maka dari itu, kami memilih ITB Career Center karena telah berpengalaman melakukan tracer study sejak tahun 2012 dengan pendapatan response rate yang tinggi pula, diatas 90%," ujar Lusye Manumpil saat ditemui usai pelatihan di Kantor Tracer Study ITB Career Center, Selasa (28/11).

Lusye mengungkapkan bahwa hingga saat ini, universitasnya baru memasuki tahap pendataan alumni melalui telepon dan e-mail untuk pelaksanaan tracer study.

"Hingga tahun lalu kami masih melakukan pendataan dengan kuesioner offline ketika mahasiswa akan mendaftar wisuda. Melalui pelatihan ini kami ingin mengadopsi teknik surveyor dan pengelolaan IT untuk pelaksanaan tracer study seperti di ITB. Sayangnya, hingga kini kami masih dalam proses management data alumni dan penjajakan mencari surveyor yang kompeten untuk membantu tracer study kami. Hal ini cukup menguras banyak waktu jika harus menggunakan metode offline, mengingat tingginya periode dan jumlah mahasiswa yang lulus setiap tahunnya, yakni mencapai 3000 orang. Jika targetnya 3 angkatan, metode konvensional jelas akan sangat melelahkan," jelasnya.

Ditemui saat memberikan materi pengenalan ITB Tracer Study, Direktur ITB Career Center sekaligus peneliti utama Tracer Study ITB, Dr. Eng. Bambang Setia Budi, S.T., M.T menyampaikan bahwa tracer study di Universitas Sam Ratulangi tersebut masih pada tahap exit survey.

"Jika alumni lulus langsung di trace, itu masih di tahap exit survey. Bedanya dengan tracer study itu adalah 1-2 tahun setelah lulus (sesuai standar internasional), atau 1-3 tahun setelah lulus sesuai DIKTI. Tracer study yang dilakukan di ITB sendiri merupakan tracer study tahap pertama, mungkin untuk tahap keduanya (4-5 tahun setelah lulus) akan diagendakan selanjutnya, supaya kita bisa membaca career path tiap alumninya," jelasnya.

Menurut Lusye, pelatihan intensif selama tiga hari ini tak hanya sekedar memberikan materi mengenai bagaimana mengelola tracer study, namun lebih dari itu, Divisi Tracer Study ITB Career Center turut memfasilitasi Tim LP3 Universitas Sam Ratulangi untuk pengelolaan database dan instalasi sistem kuesioner online tracer study.

"Kami tak hanya mempelajari perkembangan dan inovasi tracer study di ITB, tapi juga teknis komunikasi surveyor, pembuatan kuesioner, instalasi aplikasi Tracer.id, juga teknik pengolahan, sorting, dan analisis data tracer study. Kedepannya, tracer study di Universitas Sam Ratulangi diharapkan tak hanya sekedar untuk akreditasi, tapi mampu mengakomodir kebutuhan data dan feedback alumni sekaligus, sehingga evaluasi kinerja belajar mengajar di kampus kami lebih efektif dan efisien, seperti di ITB," ungkapnya di akhir wawancara. (fv)