Fulca Veda
 
Bandung, ITB Career Center — Tentu banyak dari kita yang bertanya, berapa banyak alumni ITB yang bekerja sesuai dengan latar belakang pendidikannya?
 
Divisi Tracer Study ITB Career Center mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Dari hasil penelitian tahun 2016, Divisi Riset ini menemukan bahwa setidaknya 71% alumni ITB angkatan 2009 dari total 2856 orang menganggap pekerjaannya sesuai dengan latar belakang studinya di ITB.
 
Nilai yang cukup besar tersebut menyatakan bahwa jurusan atau program studi (prodi) yang menghasilkan paling banyak alumni bekerja sesuai latar belakang studinya adalah Prodi Seni Rupa (100%) dan Prodi Desain Interior (100%). Sementara itu, Prodi dengan tingkat kesesuaian kuliah dan pekerjaan terendah adalah Prodi Astronomi (17%), Prodi Fisika (23%), dan Prodi Kriya (25%).
 
Dalam hasil penelitian Tracer Study 2016 tersebut, tinggi rendahnya tingkat kesesuaian kuliah dengan pekerjaan alumni di suatu Prodi tentu menjadi masukan tersendiri bagi Prodi dan kekhasan keilmuannya. Divisi Tracer Study ITB Career Center pada tulisannya menekankan bahwa Prodi yang tingkat kesesuaian kuliah dengan pekerjaan alumninya cukup tinggi, perlu untuk mempertahankan program yang sudah ada, dan meningkatkan aspek yang sekiranya belum maksimal. Sementara itu, Prodi yang tingkat kesesuaian kuliahnya masih rendah, tentu perlu untuk melakukan evaluasi terhadap program studinya, sehingga nantinya akan teridentifikasi hal-hal yang mempengaruhi alumninya tidak berkarir sesuai dengan bidang keilmuannya.
 
Berkaitan dalam hal ini, pada Saturday Lesson “Competency Based Development” yang diselenggarakan ITB Career Center, salah satu konsultan karir dari D&D Consultant, Ni Made Suryani pernah memaparkan bahwa sisi kognitif alumni ITB sebenarnya sudah tidak perlu diragukan lagi. Seperti diwartakan pada laman Tracer Study ITB sebelumnya, Ni Made beranggapan bahwa tugas besar bagi semua kampus di Indonesia lebih dari sekedar nilai kognitif dan hardskills semata, namun juga dibutuhkan perkembangan model kompetensi (competency based model/CBE)—termasuk softskills, untuk mengintegrasikan setiap lulusannya ke dunia usaha dan dunia industri.
 
Ni Made menegaskan bahwa CBE menjadi salah satu metode terbaru dalam dunia pedagogi karena berorientasi pada outcomes dan skills yang dibutuhkan dan relevan terhadap cita-cita/karir setiap muridnya. Dalam banyak contoh, kurikulum Harvard University, Purdue University, serta Stanford University merupakan beberapa yang telah menggunakan metode pembelajaran ini. Kurikulum CBE memungkinkan setiap lulusannya untuk dihire dengan cepat sesuai dengan kemampuannya, tanpa perlu menjalankan pembelajaran tradisional selama 4 tahun.
 
“Kita bisa tahu kenapa Stanford unggul di bidang digital entrepreneur, Harvard unggul di bidang hukum dan medis, Purdue dan MIT dengan computer science-nya, ya ini karena distinctive competetive advantage-nya, atau karakteristik major masing-masing universitas tersebut yang menjadi pembeda dengan kampus-kampus lain. Kampus-kampus tersebut sengaja meningkatkan keunggulan mahasiswanya di jurusan-jurusan tersebut agar mampu menciptakan lulusan yang berkarir sesuai bidangnya. Untuk pertumbuhan start-up misalnya, bukan saja karena lingkungan Sillicon Valley dekat dengan kampus-kampus tersebut lalu menciptakan lonjakan permintaan engineer bidang IT, bukan, tapi sebaliknya, mereka sadar mengembangkan kurikulum model kompetensi (CBE) adalah bentuk adaptif terhadap transformasi pasar kerja saat ini,” jelasnya.
 
Dalam tanggapannya, Ni Made yang merupakan Alumni Teknik Fisik dan telah bekerja di berbagai perusahaan mutinasional ini turut mengapresiasi keunggulan Prodi di ITB. Menurutnya, menanggapi trend pasar kerja saat ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi ITB. “Kampus ITB merupakan inkubator bagi mahasiswanya untuk berkembang dan lulus dengan karakter keunggulannya masing-masing. Anak FSRD ITB sudah tidak diragukan lagi dengan kesesuaian minatnya di seni, mereka paham dan jalur job marketnya sudah terbentuk demikian sejak mereka kuliah, sehingga cocok keluarannya ketika bekerja juga sesuai dengan studinya,” tambahnya saat diwawancarai seusai pemberian training Competency Based Development ITB Career Center di GKU Timur ITB.
 
Seperti dilansir dalam berita sebelumnya, laporan Tracer Study ITB 2017 yang dijadwalkan terbit awal tahun ini akan turut menyertakan berbagai riset Divisi Tracer Study ITB Career Center selama setahun, mulai dari analisis IPK, penghasilan alumni, entrepreneurship, termasuk kesesuaian studi alumni ITB dengan pekerjaanya. (fv)