Fulca Veda
 
Bandung, ITB Career Center  ̶  Tak banyak yang tahu, bahwa tracer study tidak perlu harus dilakukan oleh pusat karir di sebuah perguruan tinggi. Hal ini disampaikan oleh Presiden ICCN sekaligus Direktur ITB Career Center, Dr. Eng. Bambang Setia Budi, S.T., M.T pada wawancara terkait Career Center Officer Program 2.0 (CCOP 2.0) di Sekretariat Divisi Riset ITB Career Center.
 
Tracer study menurut DIKTI harus merujuk pada standar desain Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Ditjen Belmawa). Dari asosiasi ICCN, kami tidak menganjurkan tracer study untuk dijalankan di bawah pusat karir. Tracer study itu kan sebenarnya adalah satu program yang harus dijalankan oleh seluruh perguruan tinggi, apakah dikerjakan oleh pusat karir, unit penjaminan mutu, direktorat humas, atau divisi riset tersendiri, itu adalah kebijakan perguruan tingginya. Yang penting, tracer study itu harus dijalankan secara melembaga dan berkelanjutan, tapi tidak melulu harus dilakukan oleh pusat karir,” paparnya.
 
Tracer Study sendiri merupakan sebuah metode yang penting dalam memperoleh umpan balik terkait evaluasi sistem belajar mengajar di perguruan tinggi. Tak hanya berguna untuk akreditasi, tracer study ternyata turut berperan penting dalam memetakan alumni sebuah perguruan tinggi dalam dunia kerja.
 
“Selain untuk akreditasi, tracer study bagi perguruan tinggi memuat informasi mengenai kompetensi yang relevan bagi dunia usaha dan industri (DUDI). Hal ini akan sangat membantu upaya perbaikan sistem pendidikan dan kurikulumnya. Tanpa konsep, perencanaan, dan implementasi yang baik, maka akan sulit memperoleh data dan informasi tersebut,” katanya.

Ia menilai bahwa penyelenggaraan event CCOP 2.0 yang dikerjakan bersama ICCN adalah suatu medium yang baik untuk bersama-sama mempelajari tracer study.
 

“Karenanya, ITB Career Center bekerja sama dengan ICCN meluncurkan program CCOP 2.0 untuk memfasilitasi program pelatihan Tracer Study dan User Survey bagi perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Ada banyak materi dan persoalan yang dibahas dalam pelatihan ini, termasuk bagaimana mengimplementasikan tracer study, meningkatkan response rate, merancang sistem kuesionernya, bagaimana menggunakan sistem open source IT tracer.id, isu-isu dalam tracer study, dan inovasi terbaru seperti tracer study bidik misi,” tambahnya.

Dirinya menjelaskan bahwa CCOP 2.0 sendiri sebenarnya adalah pengembangan dari seminar dan pelatihan yang rutin dilaksanakan oleh Divisi Riset ITB Career Center terkait hasil Tracer Study ITB yang dijalankan sejak tahun 2013.

“Sebagai pengembangan dari seminar dan pelatihan yang rutin diadakan ITB Career Center, kami kerjasama dengan ICCN untuk mempelopori hal serupa untuk kalangan yang lebih luas. Dengan support dari ICCN, seminar dan pelatihan kali ini pesertanya tak hanya dari internal saja tapi juga perguruan tinggi lain, pematerinya juga beragam, tak hanya dari ITB, tapi juga diisi oleh best practice lain dari ITS yang perolehan response rate-nya mencapai lebih dari 80%,” paparnya.

CCOP 2.0 ini bisa diikuti oleh siapapun. Masyarakat umum, kepala, staf dan pengelola pusat kair, staf akademik, tenaga pendidik, pimpinan perguruan tinggi yang ingin mendalami tracer study, user survey, termasuk Tracer Study Bidikmisi sangat dianjurkan untuk mengikuti pelatihan ini.


***
Anda bisa mengunjungi laman berikut untuk memperoleh informasi lebih lanjut terkait seminar dan pelatihan Tracer Study - CCOP 2.0; https://tracer.itb.ac.id/id/agenda/2018/05/seminar-and-pelatihan-tracer-study-2018