Fulca Veda

Bandung, ITB Career Center - Indonesia Career Center Network (ICCN) dan ITB Career Center sukses menyelenggarakan seminar dan workshop Tracer Study pada acara CCOP 2.0 hari pertama (11/7/2018) di Aula Barat ITB. Lebih dari 100 peserta menjadi partisipan pada perhelatan ini.

"Sebanyak 154 peserta dari 85 universitas dan 18 provinsi hadir dalam perhelatan CCOP 2.0 untuk bersama mempelajari tentang penyelenggaraan tracer study," ujar Dr. Eng. Sandro Mihradi, selaku Ketua Lembaga Kemahasiswaan ITB dalam pembukaan CCOP 2.0 pagi ini.

Prof.Ir. Bermawi Priyatna Iskandar M.Sc.,Ph.D., selaku Wakil Rektor ITB mengatakan bahwa Tracer Study menjadi salah satu riset yang penting dalam memperbaiki kurikulum perguruan tiggi.

"Dari perhelatan Titian Karir Terpadu (TKT) ITB April lalu, kita bisa melihat transformasi pasar kerja saat ini. Melalui Tracer Study ITB tahun 2017, kami menemukan bahwa evaluasi kurikulum di perguruan tinggi sangat diperlukan seiring dengan meningkatnya industri bisnis berbasis IT di dunia," paparnya.

Presiden ICCN sekaligus Direktur ITB Career Center, Dr. Eng. Bambang Setia Budi ketika mengajak peserta workshop Tracer Study - CCOP 2.0 untuk melihat pameran buku hasil Tracer Study ITB dari tahun ke tahun. (Dok. ITB Career Center/Fulca)

Tim Sistem Informasi Lembaga Kemahasiswaan ITB turut membantu berjalannya workshop tracer study pada perhelatan CCOP 2.0. (Dok. ITB Career Center/fulca)

Adit Satria ST, MT selaku developer sistem tracer.id memaparkan tentang penggunaan sistem tracer study di ITB. Tracer.id merupakan sebuah sistem open source untuk mengerjakan tracer study yang dapat digunakan oleh berbagai institusi tracer study di luar ITB. (Dok. ITB Career Center/fulca)
 
"Karenanya, kita perlu mengembangkan kompetensi mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi sesuai dengan iklim dunia kerja yang cenderung berubah setiap tahunnya," tambahnya.

Tak hanya itu, pada kesempatan tersebut Prof. Ir. Bermawi turut mengapresiasi salah satu inovasi riset yakni Tracer Study Bidikmisi yang dilakukan oleh Divisi Riset ITB Career Center tahun lalu.

"
Melalui bimbingan Kepala Lembaga Kemahasiswaan, Bapak Dr. Eng. Sandro Mihradi, ITB telah melakukan tracer study bagi mahasiswa bidikmisi tahun lalu. Dari hasil riset tersebut kami menemukan bahwa alumni Bidikmisi memiliki kecerdasan yang sama, bahkan memiliki IPK yang lebih tinggi dari mahasiswa lain, meskipun dtg dari lokasi yg jauh. Artinya, bisa dikatakan mahasiswa di pedesaan secara akademik lebih baik dari mahasiswa yg tjnggal di perkotaan, ini semua hanya masalah akses pendidikan, beasiswa Bidikmisi harus terus dilanjutkan," tuturnya.

Mengingat pentingnya tracer study bagi universitas, Presiden ICCN sekaligus Direktur ITB Career Center, Dr. Eng. Bambang Setia Budi menegaskan bahwa tracer study tidak melulu dikerjakan untuk akreditasi semata.

"Tracer study tujuannya lebih dari sekedar untuk akreditasi. Tracer study mampu memberikan informasi bagi pengembangan perguruan tinggi, untuk evaluasi kebutuhan dan kompetensi mahasiswa di dunia pendidikan, sekaligus untuk menyajikan bukti empiris tentang alumni dan relevansinya terhadap dunia industri," ungkapnya. (fv)