Fulca Veda

Bandung, ITB Career Center - Pelaksanaan Tracer Study kerap terhambat di Indonesia lantaran kurangnya perhatian, pengetahuan, dan dukungan dari pihak perguruan tinggi. Kurangnya pemahaman tentang pelaksanaan dan pengelolaan Tracer Study dari para pakar, akademisi, ataupun peneliti merupakan hal yang sering ditemui di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. 

Hal ini disampaikan Direktur ITB Career Center, Dr. Eng. Bambang Setiabudi dalam pemaparannya pada Workhsop Tracer Study yang diikuti oleh Akademi Keperawatan Pelni, Senin (8/4/2019).

"Kita sering temui, akademisi, peneliti, bahkan banyak professor yang belum paham tentang Tracer Study. Hal ini akan berimbas pada kurangnya alokasi dana, termasuk pengadaan sarana dan prasanara yang memadai untuk dilakukannya penelitian Tracer Study. Riset kan juga perlu duit. Kadang juga ada dana yang tidak pas, misalnya lebih ke pemerataan di setiap fakultas sesuai dengan banyaknya responden yang ada di fakultas tersebut, daripada riset tracer study yang lebih tersentralisasi di pusat penelitian," ungkapnya.

Tracer Study yang dilakukan dengan metodologi dan sistem yang lemah juga akan menciptakan implementasi yang lemah pula. 

"Dalam melaksanakan Tracer Study seharusnya peneliti sudah harus jelas dalam menentukan cohort-nya, metode pengambilan datanya pun harus spesifik, dan durasi pengisian kuesioner Tracer Study-nya harus dibatasi. Saya sempat temui kasus dimana pihak perguruan tinggi men-trace semua lulusannya. Ini bukanlah pelaksanaan Tracer Study yang benar, melainkan pendataan alumni semata," tuturnya.

Tracer Study juga kerap dilaksanakan hanya jika ada akreditasi di perguruan tinggi. Padahal, menurut Bambang, tujuan Tracer Study seharusnya adalah untuk mendapatkan timbal balik (feedback) dari alumni perguruan tinggi guna perbaikan sistem dan kurikulum kedepannya. 

"Karena kepentingan akreditasi, penyelenggara Tracer Study sering hanya di tingkat Prodi, sehingga sporadis hanya saat dibutuhkan, tidak ada SDM yang khusus dan karenanya, Tracer Study dipastikan tidak akan melembaga dan tidak berkelanjutan," ungkapnya.

"Selain itu, jaminan lembaga pendidikan yang baik harus mengevaluasi lulusannya, terkait pendidikan dan kaitannya dengan dunia kerja. Tracer Study kerap tidak dilakukan di perguruan tinggi karena evaluasi pendidikan belum dianggap penting," imbuhnya.