Fulca Veda

Bandung, ITB Career Center - Dalam revolusi industri 4.0, softskills menjadi salah satu poin yang paling dilihat dalam persaingan talent antar pencari kerja. Hal ini disampaikan Perwakilan Bank Indonesia dalam sambutannya pada pembukaan Titian Karir ITB April 2019 di Aula Timur ITB, Sabtu (27/4/2019).

"Industri 4.0 ini diprediksi mampu menggerus kebutuhan akan sumber daya manusia bahkan mengakibatkan putusnya banyak tenaga kerja pada 2030. Namun, saat ini yang harus diperhatikan dalam tren pencarian tenaga kerja adalah apakah kompetensi softskills-nya memenuhi kebutuhan industri atau tidak," ungkap Doni.

Meski softskills dinilai sangat menentukan dalam persaingan tenaga kerja, Doni menilai bahwa poin ini baru bisa terlihat minimal satu tahun setelah karyawan tersebut bekerja di sebuah perusahaan. Disisi lain, softskill menurutnya juga menjadi salah satu pekerjaan rumah yang perlu dibenahi oleh institusi pendidikan seperti ITB.

"Dalam persaingan talent, sayangnya softskill baru bisa kelihatan minimal 1 tahun setelah karyawan bekerja di perusahaan tertentu. Tak hanya itu, saya harus menyampaikan bahwa softskills menjadi salah satu kompetensi yang menjadi PR dari kampus ini, mengingat kurangnya poin team work yang dimiliki oleh alumni-alumni ITB yang pernah kami evaluasi. Tapi, untungnya di BI meski anak ITB terkenal kutu loncat, sejauh ini masih banyak yang bertahan, ga loncat-loncat," pungkasnya disambut gelak tawa para tamu Titian Karir ITB April 2019.

Pada user survey yang dilakukan oleh Divisi Riset ITB Career Center tahun 2018 sendiri menunjukkan bahwa poin manajemen diri dan orang lain (0.93) serta bekerja dalam tim (0.81) menunjukkan gap yang paling besar diantara poin evaluasi kebutuhan dan kepentingan DUDI yang lain.

Menanggapi hal ini, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Mahasiswa, Prof. Bermawi Priyatna Iskandar, Ph.D. menegaskan bahwa memang dibutuhkan banyak pembenahan untuk meningkatkan softskills pada poin kerjasama tim di ITB, mengingat kinerja kelompok juga menjadi salah satu yang berperan dalam proses penuntasan tugas-tugas perusahaan.

"Poin softskills dan team work menjadi tugas kita bersama, ini akan terus dibenahi," tuturnya.

Lebih jauh, Bermawi menekankan bahwa ITB telah mengadopsi kompetensi yang lebih generik untuk merespon perkembangan industri 4.0.

"Khusus untuk merespon revolusi industri 4.0, kami sudah mulai mengadopsi kompetensi yang lebih generik, yakni dengan memasukkan kurikulum berkenaan dengan coding, big data analysis, AI, dan sustainability. Diharapkan nantinya, lulusan kami bisa meng-capture fenomena apapun secara real time, sekaligus menciptakan big data untuk meningkatkan efisiensi dan produktifitas industri," ujarnya. (fulca)