Fulca Veda

Bandung, ITB Career Center  ̶  ITB menjadi kampus pertama yang menyelenggarakan tracer study atau pelacakan alumni penerima beasiswa Bidikmisi. Pelaksanaan tracer study ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai sejauh mana tingkat keberhasilan program Bidikmisi yang telah dicanangkan oleh pemerintah di ITB.

Dalam Konferensi Pers terkait Titian Karir ITB 2018, Jumat (16/2/2018), Ketua Lembaga Kemahasiswaan ITB Dr. Eng. Sandro Mihradi mengungkapkan bahwa program Bidikmisi yang diluncurkan pemerintah sejak 2010 lalu, merupakan sebuah terobosan guna mengangkat masyarakat dari golongan ekonomi bawah agar dapat keluar dari lingkaran kemiskinan, melalui pendidikan.

“Selain Tracer Study 2017 dan Survey Pengguna ITB 2017, Divisi Riset ITB Career Center juga melaksanakan penelusuran tracer study terhadap penerima beasiswa Bidikmisi. Angkatan 2010 dipilih sebagai objek yang diteliti karena baru tahun 2010 beasiswa ini diberikan oleh pemerintah,” paparnya kepada awak media pada Jumat (16/3), di Beehive Café Bandung.

Besarnya beasiswa yang diberikan oleh pemerintah pada program Bidik misi ini sendiri mencapai satu juta rupiah.

“Beasiswa yang didapatkan satu orang sebesar satu juta perbulan. Dari hasil survey tahun 2010, ITB melihat bahwa biaya hidup di Bandung cukup tinggi, makan bisa sampai enam ratus ribu rupiah, belum lagi harus bayar biaya kos, ongkos transportasi, photo copy, dan lainnya. Dari total beasiswa tersebut, sebenarnya pemerintah memberikan hak bagi universitas dalam mengelola 40%nya untuk biaya kuliah, namun kami hanya ambil Rp 50.000 untuk biaya pendidikan saja, sisanya untuk biaya keseharian mahasiswa bidikmisi. Berbeda dari kampus lain, di ITB, kami menyediakan voucher makan bagi mahasiswa bidikmisi,” paparnya.
 
Dr. Eng. Sandro Mihradi, Ketua Lembaga Kemahasiswaan ITB, dan Dr. Eng. Bambang Setia Budi, selaku Direktur ITB Career Center berfoto bersama awak media pada Konferensi Pers Titian Karir ITB 2018, Jumat (16/3). (Dok. ITB Career Center/Fulca)

“Beasiswa ini sangat bermanfaat bagi teman-teman yang datang dari keluarga berekonomi rendah. Kalau dihitung-hitung, dengan inflasi hampir 6% tiap tahunnya, tentu besarnya beasiswa ini terbilang rendah. Syukur tahun kemarin pemerintah sudah mulai menaikkan beasiswa sebesar lima puluh ribu rupiah, kita harap dana beasiswa ini bisa naik dan programnya diteruskan,” tambahnya.

Pada tracer study bidik misi tersebut, ITB menemukan bahwa dari total 469 mahasiswa penerima bidik misi, 63%nya mencari penghasilan tambahan selama kuliah, dan 10,9%nya menggunakan beasiswa tersebut untuk menopang biaya hidup keluarganya.

“10.9% dari total 469 mahasiswa menggunakan beasiswa bidik misi untuk menopang biaya hidup keluarganya. Ini miris karena besar dana beasiswa yang diterima sendiri terbilang kecil, tapi nyatanya demikian,” ujarnya kepada awak media.

Meski begitu, ITB menemukan bahwa mahasiswa bidik misi ternyata tidak kalah berhasil jika dibandingkan dengan mahasiswa lainnya.

“Sebanyak 60% dari total penerima beasiswa bidik misi bekerja di perusahaan, 15% dari 469 mahasiswanya juga menempuh pendidikan lanjutan, beberapa juga memilih menjadi wirausaha. 56.72% penerima beasiswa bidik misi lulus tepat waktu. IPK penerima bidikmisi juga terbilang tinggi, 3.31, berbeda dengan rata-rata IPK mahasiswa non bidikmisi 3.26. Ya, secara umum program ini cukup berhasil, hal ini menjadi masukan kepada pemerintah untuk melanjutkan program bidik misi untuk mengentaskan kemiskinan lewat pendidikan,” jelasnya.  (fv)