Fulca Veda

Bandung, ITB Career Center  ̶  Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) mengunjungi Divisi Riset ITB Career Center pada Rabu lalu, (4/4/2018).

Nofria Hanafi, S.ST., MT., Kepala Pusat Karir dan Potensi Alumni Politeknik Elektronika Negeri Surabaya memaparkan bahwa kunjungan ini khusus dilakukan untuk melanjutkan kegiatan pengembangan tracer study di PENS yang sebelumnya telah dibimbing pembentukannya oleh Direktur ITB Career Center sekaligus Peneliti Tracer Study ITB, Dr. Eng. Bambang Setia Budi, S.T., M.T.

“Menyambung yang sudah dilakukan sebelumnya, setelah mengundang Dr. Eng. Bambang Setia Budi, kami ingin lebih mengenal bagaimana tahapan tracer study di ITB dikerjakan. Pihak pusat karir PENS memutuskan untuk belajar lagi dengan ITB Career Center sekaligus ingin memperdalam konsep-konsep surveyor, metode pengolahan data, serta penggunaan reward untuk bisa diadopsi lebih lanjut,” paparnya.

Berbeda dengan ITB yang telah melaksanakan tracer study menyeluruh sebanyak 6 kali, Novia memaparkan bahwasanya PENS baru akan melaksanakan tracer study menyeluruh tahun ini. Pasalnya, tracer study yang dilakukan di PENS selama ini hanya dikerjakan di tingkat fakultas saja.

“Sebelumnya kami sudah pernah melakukan tracer study tapi hanya dilakukan di masing-masing program studi saja, resource-nya (tenaga) juga bukan dari pusat karir, dan tujuannya untuk akreditasi semata. Baru tahun ini kami agendakan tracer study yang dilaksanakan menyeluruh oleh Pusat Karir dan Potensi Alumni PENS,” ujarnya saat diwawancarai di sela-sela kunjungan ke Kantor Tracer Study ITB, Rabu (4/4).

Beberapa hambatan seperti kurangnya kepedulian alumni terhadap pelaksanaan tracer study yang masih dikerjakan secara luring (offline) ini merupakan beberapa kendala yang dialami oleh PENS.

“Hambatan seperti kurang kooperatifnya teman-teman alumni PENS dalam pelaksanaan tracer study, adalah kendala terbesarnya. Banyak yang tidak paham bahwa feedback mereka sangat berguna untuk evaluasi kegiatan belajar mengajar. Selain itu, sistem tracer studynya juga masih offline, di area Jakarta misalnya, kita harus bikin gathering dulu, sehingga metodenya masih analog (konvensional, red). Akhirnya, Wakil Direktur I PENS, Dr. Indra Adji Sulistijono, ST., M.Eng. menyarankan untuk mengundang Direktur ITBCC sehingga bisa mengadopsi keunggulan pelaksanaan tracer study ITB di PENS,” paparnya.

Pada kesempatan tersebut, Hanafi mengapresiasi saran Dr. Eng. Bambang Setia Budi untuk membuat sistem sendiri guna memudahkan pengelolaan tracer study di kampus elektronika tersebut.

“Berbekal saran dari Pak Bambang, guna mengantisipasi troubled dan mengelola jaringan penyimpanan data survey, akhirnya kami tidak mengadopsi tracer.id yang digunakan ITB, melainkan membuat sendiri sistem Tracer Study PENS. Sekarang website dan sistemnya sudah rampung 50%, bulan Juni kami targetkan untuk launching websitenya. Juli akan kita mulai tracer study-nya, mudah-mudahan kami bisa mendapat response rate seperti capaian tracer study di ITB,” harapnya. (fv)